-->

Jiwa Setia Hati Tidak Akan Bisa Di Capai Oleh Orang Yang Hatinya Mati.

SETIA HATI sadar dan meyakini akan hakiki hayati itu akan mengajak serta para pelaku ajarannya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani dimana “SANG MUTIARA HIDUP” bertahta.

Makna pembukaan yang sangat dalam untuk para warga PSHT dalam mengarungi bahtera kehidupan agar mampu menggapai kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Namun, apakah bisa warga Setia Hati yang hatinya mati bisa mencapai ajaran itu.

Mari menilai hati sendiri dengan bermuhasabah diri agar kita mengetahui apakah hati kita masih berfungsi atau tidak untuk mencapai jiwa setia hati sebagaimana yang Nabi sabdakan:
 أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengutip pendapat Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati terdiri dari 3 macam:

Pertama, hati yang sehat dan menyebabkan keselamatan. Hati yang sehat memiliki beberapa tanda, yaitu, imannya kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, kehidupan tenteram, khusyuk dalam beribdah, banyak berdzikir, kebaikan selalu dinamis, segera sadar jika melakukan kesalahan, suka bertobat dan sebagainya.

Kedua, hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan, ada ibadah, ada pahala, namun ada pula noda-noda maksiat dan dosa. Tanda-tanda hati yang sakit antara lain: hati selalu gelisah jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain, kehidupan tidak nyaman, mengalami penderitaan lahir batin, dan sebagainya.

Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati berarti hati yang telah mengeras dan membatu karena terlalu banyak kotoran akibat dosa-dosa yang diperbuat. Sebagaimana firman Allah:
 وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ، إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ، كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu", sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS Al-Muthaffifin [83]: 12-14).

Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rusaknya hati. Diantaranya ada dua sebab perusak hati yang disebutkan Imam al-Muhasibi dalam kitabnya, Risalah al-Mustarsyidin : 

وَأَصْلُ فَسَادِ الْقَلْبِ تَرْكُ الْمُحَاسَبَةِ لِلنَّفْسِ وَالْإِغْتِرَارِ بِطُوْلِ الْأَمَلِ 

“Asal dari rusaknya hati yaitu meninggalkan muhâsabah diri dan tertipu dengan panjangnya ambisi.” (al-Harits al-Muhasibi, Risalah al-Mustarsyidin, Dar Al-Salam, halaman 110)

Kenyataannya adalah banyak sekali warga setia hati yang tidak faham Makna Setia Hati karena hatinya telah mati dengan keluar dari Organisasi PSHT, Membuat Cabang tandingan dimana Cabang yang lama masih aktif,  Mengabaikan pendapat umum serta tidak mematuhi keputusan negara sebagai wakil tuhan adalah salah satu tanda ambisi yang nyata.

© 2021 ‧ jurnalterate.com. All rights reserved. Made with ♥ by tdb