Aspek Aktualisasi (Berbudi Luhur) Untuk Meminta Keselamatan Roh Kudus.
jurnalterate.com - Saat memikirkan kata berbudi luhur, hal yang mungkin muncul dibenak kita ialah mengenai hal apa yang berlaku benar di dalam tata cara kita bermasyarakat, karena kita adalah manusia, makhluk sosial yang diciptakan Tuhan untuk saling bergantung satu sama lain. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia memang di tuntut untuk dapat bersikap berbudi luhur dengan manusia lain (memayu hayuning bawana). Hidup sebagai seorang Kristiani sekaligus Warga PSHT yang juga bermoral Kristiani akan dilihat dalam beberapa hal yang menyangkut yaitu, Iman Kristiani, Norma, dan Hati Nurani.
• Iman Kristiani.
Dalam dunia orang pengikut Kristus, kita percaya bahwa kita bermoral dengan dapat berbuat baik. Berbuat baik yang bagaimana? Yaitu berbuat baik yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, namun dapat memberikan energi baik bagi siapapun disekitar kita. Dari apa yang sudah kita pelajari dari kecil, bahwa tujuan kita untuk berbuat baik ialah untuk mendapatkan tempat di surga nanti. Padahal, itu merupakan pikiran yang mungkin dapat dibilang cukup sempit sebagai seorang Kristiani. Pandangan yang baik mengenai hidup bermoral ialah untuk menyebarkan kasih yang sudah kita terima lebih dulu dari Tuhan Yesus, anak Bapa yang tunggal yang Bapa relakan untuk menggantikan kita dalam menebus dosa yang abadi. Hidup bermoral akan mengarahkan kita menjadi dapat berbuat baik karena kita sudah merasakan kasih-Nya terlebih dahulu
• Norma (Bebrudi Luhur).
Dalam pengertian dasariah, kata norma (Bebrudi Luhur) berarti pegangan atau pedoman, aturan, tolak ukur. Sedangkan norma moral ialah terkait dengan kebebasan, dan tugas, keadaan lingkungan hidup dan tingkah laku moral. norma moral berfungsi mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri-sendiri dan sesama, sehingga meminta kita untuk memperhatikan kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidup; norma moral menarik perhatian kita kepada masalah-masalah moral yang kurang ditanggapi manusia; norma-norma moral dapat menarik perhatian manusia kepada gejala ‘pembiasan emosional’. Jika berdasarkan penjelasan dasar di atas, maka kedudukan dan peran Yesus Kristus sebagai norma-norma hidup moral tersirat. Dalam teologi moral, untuk adanya hubungan antar manusia maka melalui metode pendekatan personal. Hubungan pribadi harus berawal dari dan berlabuh pada hubungan manusia dengan Allah dalam Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus. Keberadaan Yesus sebagai norma hidup moral terkait erat dengan : ciri normatif Kitab Suci bagi moralitas Kristiani; hubungan dan tegangan antara iman dan moralitas.
• Hati Nurani
Sebagai insan setia Hati, tentunya ketajaman Hati nurani merupakan suatu hal yang penting, dalam artian bahwa hati nurani tidak bisa hanya disadari saja, namun perlu untuk dipahami. Oleh sebab itu, cara pendekatan untuk mengenal lebih jauh apa itu hati nurani dalam kehidupan sehari-hari, hati nurani dapat disadari sudah muncul dalam diri kita sebagai manusia meski kita tidak pernah berpikir untuk berbuat demikian. Hati nurani dalam aspek teologal lebih condong membahas keputusan manusia yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan. Dalam pembahasan yang dilakukan oleh para ahli, menyebutkan permasalahan mengenai bagaimana munculnya hati nurani merupakan hal yang rumit. Dewasa ini, manusia sering memakai atau tertarik untuk membahas mengenai hati nurani kalau mereka ingin memprotes tentang kehidupan menurut sudut pandang manusia yang tidak menjunjung tinggi norma yang berlaku dalam kalangannya sehingga dianggap tidak etis dalam bertindak.
Dengan begitu, setidaknya ada 3 pandangan dasar tentang hakikat hati nurani yang akan dikemukakan mengenai hati nurani.
- Pertama, umumnya yang dimaksud dengan hati nurani adalah keputusan konkret melalui penalaran praktis, berkat pengaruh kekuatan dalam hati nurani, yang menyangkut kebaikan moral dalam tindakan tertentu. Selain konkret, hati nurani juga mempunyai sifat subjektif, individual dan eksistensial. Dalam hal ini, maka hati nurani lebih dipandang sebagai keputusan moral praktis yang memberitahukan kepada manusia dalam suatu keadaan konkret sambil mengingatkan manusia akan kewajiban moral yang perlu dipenuhi.
- Kedua, hati nurani dipandang sebagai kecakapan moral seseorang, “sanggar suci” terdalam manusia, tempat manusia mengenal dirinya dihadapan Tuhan dan orang lain. Hati nurani merupakan kedalaman keberadaan manusia yang sesungguhnya, pusat terdalam pribadi yang tertuju pada Tuhan yang memelihara manusia.
- Ketiga, hati nurani tidak lagi dipandang sebagai suatu “kecakapan di dalam kehendak dan intelek”, tetapi dilukiskan sebagai “tenaga dinamis” dalam diri manusia, yang memungkinkan pribadi manusia untuk memberikan tanggapan yang tepat dan benar dalam kehidupan seseorang.
Tiga aspek tersebut akan membawa seorang hambah menuju keselamatan dan juga tempa kasih oleh tuhan.
Daftar Pustaka :
Aman, P.C., 2016. Moral Dasar Prinsip-prinsip Pokok Hidup Kristiani. Yogyakarta : Obor
Chang, William, 2000. Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta : Kanisius
Jusuf, W., 2011. Masa Kritis. https://cinemapoetica.com/of-gods-and-men/ . Diakses pada tanggal 3 Juni 2019