K.H. Ahmad Dharmawan Ingatkan Santri Bukan Hanya Secara Jasad Namun Juga Bathinnya Pada Perayaan Hari Santri Nasional 2022.

Kontributor : Andri Julius Sadubun.
Jurnalterate.com - Setiap tahun tepatnya pada tanggal 22 Oktober merupakan salah satu momen resolusi jihad di gaungkan. Penetapan itu di mulai sejak tahun 2015 dimana presiden Jokowidodo, warga SH Terate yang di sahkan di Padepokan Agung Madiun Pada Tahun 2014. Resolusi jihad di cangangkan oleh para ulama' Jawa-Madura setelah Belanda dapat terusir dari tanah Indonesia. Namun, upaya dari tentara jepang yang ingin mengusai tanah indonesia membuat K.H. Hasyim Asy'ari dan para ulama terkemuka mencetuskan Resolusi Jihad. Dari sinilah, Hari santri identik dengan Identitas Nahdlatul Ulama' sebagai momen perayaan resolusi jihad setiap tanggal 22 Oktober.

Secara persuasif bersosial, SH Terate merupakan sebuah wadah yang majmuk, terdapat keberagaman bahkan perbedaan baik golongan, suku, agama dan kelompok masyarakat berbaur menjadi satu dengan dasar Persaudaraan. Maka tak hayal jika upacara hari santri di laksanakan oleh warga SH Terate yang kebetulan menjadi orang NU, beramaliyah NU dan berharokah NU.

Seperti halnya di Komisariat Pondok Pesantren Bustanul Hikmah Dumpiagung, Pesantren yang di asuh oleh K.H. Ahmad Darmawan (Kyai Wawan) seorang ulama' muda murid dari K.H. Roma dengan kecintaanya menjadi pengemong umat menyelenggarakan upacara Hari Santri Nasional khusus anggota SH Terate.

Bertindak sebagai pembina upacara, upacara yang di ikuti oleh 248 dari Siswa SH Terate Ranting Mantup dan Siswa SH Terate Komisariat Bustanul Hikmah pada (22/10/2022) pukul 12.00 WIB. Dengan rentetan acara Pembacaan resolusi jihad, ikrar pancasila dan Mars yalal wathon ciptaan Allahuyarham K.H. Wahab Hasbulloh Berjalan hidmat dan penuh penghayatan jasa ulama'.

"Bertema sebagai manusia seutuhnya, tentu kita di tuntut memiliki hati yang seperti manusia, patuh, ikhlas dan sabar layaknya seorang bayi yang baru lahir, belum mengerti apa-apa yang di sebut sebagai fitrah. Panjenengan semua telah di didik dalam kawah candradimuka SH Terate dengan di tendang, di pukul, itu mengajarkan penjenengan semua untuk berhati ikhlas, kelak jika sudah lulus dan bermasyarakat, jika panjenangan di hantam oleh fitnahan, hujatan, panjenengan harus ikhlas, panjenengan harus tahan banting" Jelas beliau K.H. Wawan saat memberikan amanah pada upacara.

Bukan hanya soal wawasan pendidikan SH Terate, beliau juga menambahkan wawasan soal hukum timbal balik yang berlaku pada sosial masyarakat.
"Orang kalau merasa dirinya sakit hati dengan sebuah fitnahan, itu juga sebuah pengingat kalau kita tidak boleh memfitnah seseorang. Kalau kita merasa sakit hati dengan sebuah cemoohan, itu juga sebagai pengongat kalau kita tidak boleh mencemooh orang. Orang yang suka memfitnah, mencemooh dan mengintai kekurangan orang lain itu orang yang pengangguran. Hatinya tidak sibuk dengan kemurnian hati, dia sibuk dengan kekurangan lain" Imbuh beliau.

Di kesempatan yang sama di tempat lain, Kangmas Abu wiro anom SH Terate juga memberikan pesan untuk selalu menyibukan hati.
"Kalau ada kelompok apapun itu hanya sebuah bungkus, wadah. Wadah dan bungkus hanya berfungsi sebagai tempat, namun yang sulit itu mencari isinya. Sama halnya dalam SH Terate, Sh Terate hanya sebuah wadah, sebuah bungkus, namum baik dan buruknya orang-orang itu sendiri yang menentukan. Begitupun Agama, Agama juga bungkus. Baik buruknya juga tergantung isinya bukan wadahnya. Perumpamaan sebuah nasi, mau di bungkus pakai daun jati, daun pisang yang tetap nasi. Nasi kering dan nasi basi, mau di bungkus kotak nasi plastik maupun di bungkus kotak nasi besi juga tetap nasi kering dan nasi basi". Wedjang beliau.

Ilmu hikmah yang terkandung dalam upacara hari santri nasional di pesantren bustanuk hikmah siang hari tersebut memang sangat banyak. Terlebih pelajaran-pelajaran yang terkdandung dapat di dharmakan dalam kehidupan sehari-hari.