Kematian Dan Kehancuran Kerajaan Sri Krishna Dalam Lontar Mausala Parwa Terjadi 36 Tahun Setelah Mahabharata.

Kontributor : Kusrini Oktaviani S.pd.,
Jurnalterate.com - Kisah kehancuran keluarga Sri Krishna. Komandan strategi perang Pihak Pandawa dapat kita baca dalam "Mausala Parwa". Keluarga besar Kerajaan Sri Krishna tewas dalam perkelahian saling membunuh antar saudara akibat mabuk jabatan, kekuasaan dan silang pendapat yang berlebihan. Setelah putra dan bangsanya saling menjatuhkan yang berakhir dengan saling membunuh, Sri Krishna gugur terkena panah oleh manusia biasa yang bermata pencaharian pemburu hewan di hutan bernama Jara.

Kehancuran kerajaan Sri Krishna ini bermula dari Pangeran Samba (putra Sri Krishna) dan kelompoknya yang bersikap terlalu arogan mempermainkan para resi suci penerima wahyu suci Weda yang di sebut Pendeta. Kisah ini terjadi setelah 36 tahun seusai perang besar Mahabharata. Dewi Gandhari mengutuk Sri Krishna dan keluarganya karena Sri Krishna dianggap tokoh suci yang bertanggungjawab atas pembiaran terjadinya perang besar Mahabharata. Dalam benak Dewi Gandhari sebelum putra-putranya gugur di tangan para Pandawa selalu menanyakan kepada Tuhan hingga akhir hayatny, "Kenapa Sri Krishna, figur orang suci membiarkan terjadinya Mahabharata?".

Mausala Parwa adalah bagian (parva/parwa) ke-16 dari 18 parva yang menyusun kisah sejarah Mahabharata. Mausala Parva merupakan salah satu dari tiga parva terpendek dari 18 parva Mahabharata. Terdiri dari 9 bab tanpa sub-bab yang berarti hanya memmnjelaskan sejarah dengan olah paragraf. Mausala parva dikenal sebagai parwa terpendek dalam Mahabharata.

Kakawin Mausala Parwa yang berbahasa Kawi (Jawa Kuno) yang beredar di Bali dan kerajaan Jawa Kuno di masa majapahit dan sebelum majapahit berbentuk lontar. dan menjadi bagian kegiatan pesantian. Naskah Jawa Kuno ini sama isinya dengan naskah Mausala Parva berbahasa Sanskerta yang beredar luas di India sampai sekarang. Keduanya berkisah tentang kisah kehancuran kerajaan Sri Krishna.

Jika kita membaca bagian Mahabharata yang lain, sebelum gugurnya Sri Krishna, yaitu dalam Bhisma Parva (yang tercatat di kitab lontar Bali dan Jawa Kuno disebut Kakawin Bhisma Parwa), di sana kita mendapatkan kisah bagaimana Sri Krishna memberikan nasehat kepada Arjuna yang ragu-ragu dalam peperangan Mahabharata. Di sana juga Sri Krishna mengizinkan Arjuna untuk melihat wujud kedewataan dirinya yang luar biasa. Arjuna meminta maaf karena tidak dapat mengenali Sri Krishna sebagai dewa. Arjuna meminta maaf atas ketidakhormatan yang dia tunjukkan, jika dia mengatakan sesuatu dengan ceroboh di masa lalu, dan menganggap Krishna sebagai teman biasa dan manusia biasa tanpa memiliki kelebihan.

Percakapan antara Sri Krishna dan Arjuna itu merupakan bagian dari Bhisma Parva sendiri, secara terpisah dikenal sebagai Bhagavad Gita. Jadi, jika kita menyimak serius Bhisma Parwa, akan mendapati sumber dari percakapan Bhagavad Gita. Bhagavad Gita bersetting perang Mahabharata, percakapan Sri Krishna dan Arjuna tercantum versi singkatnya dalam Kakawin Bhisma Parwa yang sudah dikenal masyarakat Jawa Kuno dan Bali sebelum berdiri Majapahit, kemungkinan telah beredar di masa Kerajaan Kediri yang tegak berdiri di tanah Jawa dari sekitar tahun 1042 hingga 1222.