Pusaran SH Terate Dalam Konflik G-30 S-PKI Di Madiun Hingga Peneguhan Ideologi.
Jurnalterate.com - SH Terate adalah perguruan silat legendaris yang berperan menyebarkan pencak silat ke berbagai daerah (bahkan manca negara). Lika liku dan perjalanannya menjadi saksi dan secara langsung ikut merasakan bagaimana bangsa ini di rundung duka dan di ambang perpecahan. Di pusatnya Madiun, terdapat ribuan pendekar SH terate yang tersebar sampai pelosok-pelosok kampung. Bagi pemuda-pemuda di daerah Madiun, menjadi anggota SH terate adalah tradisi yang mereka laksanakan secara turun-temurun bahkan saat ini menjadi budaya. Maka tidak heran jika banyak 1 rumah dari Kakek buyut sampe cicit dalam satu Kartu Keluarga (KK) menjadi anggota SH Terate.
Substansi hikayat Madiun sebagai Kampung Pendekar berasal dari seorang pemuda bernama Muhammad Masdan (Mbah Suro). Sewaktu masih sangat muda Mbah Suro adalah seorang pemuda yang memiliki dedikasih mempertahankan budaya bangsa dalam mendalami ilmu beladiri dan kanuragan Nusantara, terbukti banyak sekali aliran yang beliau pelajari di berbagai daerah mulai dari Sumatra, Aceh, Kalimantan, hingga di arahkan di Madiun.
Setelah sesampainya Muhammad Masdan di Madiun, beliau mendirikan sebuah perguruan silat sendiri. Perguruan silat ini kemudian berkembang cukup pesat karena mendapat dukungan Belanda. Mbah Suro memiliki banyak sekali murid. Namun diantara sekian ratus muridnya ada 3 murid yang menonjol salah satunya adalah Bapak Munandar, beliau mendirikan Persaudaraan Setia Hati atau lebih di kenal PSH yang saat ini berpusat di Jogjakarta. Kemudian Bapak Hardjo Oetomo mendirikan perguruan silat sendiri di daerah Pilangbango Madiun yang saat ini menjelma menjadi SH Terate sebagai alat untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari jajahan belanda.
SH Terate sendiri sangatlah mengakar di daerah madiun baik pinggiran pedesaan maupun pusat perkotaan. Namun, seiring berjalannya waktu. Perpecahan terjadi pada saat tahun 1965-an dimana Bapak Santoso yang pernah di menjabat sebagai ketua Umum ke-4 setelah Bapak Irsyad harus di berhentikan karena istri beliau di bidik oleh pemerintah karena menjadi ketua umum anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) Partai Komunis Indonesia di madiun.
Demi menyelamatkan SH Terate baik dari sisi ajaran maupun pergerakan, meskipun bapak Santoso tidak terlibat dalam pusaran Partai Komunis. Secara berat hati dan demi keberlangsungan SH Terate ke depan beliau berhentikan oleh saudara-saudara SH Terate melalui musyawarah darurat dan di gantikan kembali oleh Bapak Soetomo Mangkujoyo Ketua Umum ke-2 Setelah pendiri Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Merasa di hianati oleh saudara sendiri, Bapak Santoso yang beristrikan gerwani lantas berafiliasi dan turut serta membantu mengembangkan Persaudaraan Setia Hati (PSH) dirian Bapak Munandar yang berpusat di Jogjakarta beserta para pengikut setianya salah satunya adalah Suwigyo dengan menebar isue bahwa SH Terate bagian dari PKI. Di fase ini, dapat di katakan bahwa SH Terate mengalami momen tersulitnya karena harus di benturkan dengan pihak luar maupaun perbedaan pendapat di dalam organisasi.
Perselisihan semakin menjadi-jadi di tahun 1963 hingga 1967, banyak sekali pendekar SH Terate terlibat bentrok fisik senjata tajam dalam peristiwa-peristiwa politik demi mempertahankan ajaran dan gerakan sekaligus ideologi bangsa. Hal inilah yang kemudian menyelamatkan SH Terate dari pembubaran oleh pemerintah karena di nilai menjadi bagian penyelamatan bangsa di daerah Madiun untuk yang ke dua kali setelah pergerakan Bapak Hardjo Oetomo dalam memerdekakan bangsa. Setelah masa pembersihan anggota PKI yang berlangsung antara tahun 1967-1971 di daerah Madiun. SH Terate sedikit demi sedikit mulai kehilangan pamornya. Namun, sebagai Organisasi yang teguh akan nilai-nilai prinsip persaudaraan insaniyah dalam bingkai nasionalisme yang di tinggalkan oleh Bapak Hardjo Oetomo banyak sekali pendekar SH Terate yang mengambil peran sebagai eksekutor anggota PKI (termasuk beberapa pendekar lain yang terlibat PKI) di kawasan Madiun dengan dekrit komando Kangmas Imam Koesupangat "Jika ada yang mengganggu kedulatan bangsa indonesia dengan merong-rong pancasila, maka pendekar SH Terate siap tampil di haris depan" pada tahun 1970-an. Dan dawuh beliau di ulang kembali oleh Bapak Tarmadji pada saat mengumbandangkan Mars SH Terate.