Selain Cuci Mori, Mahesa Lawung Di Cabang Surakarta Pusat Madiun Menjadi Media Meningkatkan Kualitas Diri.

Jurnalterate.com - Beda ideologi, beda lagi adat menyempurnakan laku hidup. Sama halnya yang di laksanakan oleh warga SH Terate Surakarta Pusat Madiun dalam mengup-grade diri kepada kebaikan dan menambah ketaqwaan yang di peroleh dari amalan 1 syuro.

Beberapa adat cuci mori yang di laksanakan di daerah jawa timur berbeda dengan daerah Jawa Tengah, hal demikian tidak menjadi alasan untuk mengais ilmu hikmah. Ilmu Setia Hati Terate yang tertanam menjadikan diri tidak mudah terombang-ambing dan tersesat dalam tataran keduniawian.

Di Surakarta yang menjadi puncak mawas diri bukan melalui media cuci mori ataupun cuci pusaka. Akan tetapi pada acara ritual Mahesa lawung, Yakni kawanan kebo bule yang bertugas mengawal pusaka Keraton Solo.

Konon, saat Sang Raja Ke II sedang mencari lokasi untuk keraton baru pengganti Istana Kartasura pada 1725, leluhur kebo-kebo bule itu dilepas liar. Dan pada khirnya berhenti di lokasi yang kini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta. Hal ini juga di percaya oleh warga SH Terate Surakarta sebagai simbol pembersihan sekaligus pencarian jati diri, karena pada inti sari ajaran Setia Hati merupakan pencarian jati diri dimana barang siapa yang mengenal dirinya sendiri akan mengenali tuhanya atau punjer dirinya sebagai hambah tuhan.

Pusaka yang kandung maksud merupakan Hati Sanubari pada setiap diri manusia, Oleh karena sebab itu, mahesa lawung atau Kebo Bule menjadi cucuk lampah (Pengawal/niat utama) dalam prosesi kirab sejumlah pusaka Keraton Kasunanan Surakarta.