Tirakat "Tapa Tunggal" Mas imam Koesoepangat Menghantarkan PSHT di Puncak Kejayaan.

Pengertian tirakat adalah menahan hawa nafsu (berpantang). Laku tirakat/laku olah batin bertujuan agar kita mendapat restu dari Tuhan Semesta Alam sehingga apa yang kita cita citakan menjadi mudah untuk dicapai.

Dalam istilah orang Jawa, salah satu laku tirakat yang paling tajam dan 100% menghasilkan adalah "Tapa Tunggal". Tapa tunggal sendiri merupakan tirakat yang berbentuk melajang/tidak pernah menikah sama sekali.

"Tapa tunggal" juga pernah di lakoni oleh tokoh-tokoh Nusantara dan tokoh-tokoh pemuka agama, Seperti Senopati Gajah Mada, Wali Allah Abdullah bin Abi Najih al-Makky yang berasal dari Makkah, termasuk Pastur Gereja dan Pendeta Budhisme juga melakukan Tapa Tunggal. Hal ini di karenakan kecintaan mereka kepada tuhan sudah mencapai taraf yang sangat tinggi.

Senopati gajah mada merupakan panglima perang di kerajaan majapahit, Kesaktian beliau yang terkenal di seluruh pelosok nusantara telah menjadikan beliau sebagai legenda, bahkan jasad makam beliau tidak pernah di temukan dalam teori riset keilmuan modern manapun, Kesaktian beliau di dapatkan karena tirakat "Tapa Tunggal" yang kemudian menjadikannya muksoh (Hilangnya Jasad Dan Juga Ruh).

Sementara itu, kecintaan kepada tuhan juga telah membuat tokoh agama islam Abdullah bin Abi Najih al-Makky tidak ingin berpaling dengan allah. Nama lengkapnya adalah Abu Yasar Abdullah bin Abi Najih. Beliau merupakan seorang mufassir yang sangat terpercaya di kalangan tabiin dan tabi'at. Beliau merupakan murid tabiin ternama Thawus dan Mujahid. Tirakat (Tapa Tunggal) beliau telah menghasilkan ulama kenamaan seperti Sufyan bin Uyainah dan Bukhori Muslim pencipta kitab "Hadist Sahih Bukhori Muslim". 

Begitupan agama katolik, syarat menjadi Pastur adalah berani "Tapa Tunggal" tidak boleh menikah, agar mampu menjadi perantara umat Kristen bertemu juru selamat Tuhan Yesus.

Sama halnya dengan Kang Mas Imam Koesoepangat. Tapa Tunggalnya menjadi pembuktian Kecintaannya kepada allah enggan di palingkan dengan hal-hal duniawi. Aktualisasi tirakatnya di berikan untuk kejayaan PSHT. Al hasil, PSHT sekarang menjadi Organisasi besar. Selain itu, Tirakat-tirakat dengan cara lain yang sesepuh PSHT lakukan juga berhasil menghantarkan PSHT di puncak kejayaan. Tentu, tirakat itu juga di barengi dengan tindakan-tindakan berbudi luhur sebagai penyeimbang antara jasad dan ruhaniyah.