Membantah Penjualan Atribut Dan Konten Youtube Sama Dengan Menjual Organisasi.

www.jurnalterate.com - Banyak anggota Eks-PSHT berspekulasi bahwa menjual atribut, mengabarkan berita terupdate melalui Youtube, Facebook dan Instagram di anggap mencari makan demi keuntungan personal (Pribadi). Hal ini sangat tidak etis di ucapkan karena dapat menimbulkan tersinggungnya hubungan dan dapat menimbulkan retaknya tali silaturrahmi.

Perubahan zaman telah menunjukan bahwa modernisasi teknologi tidak bisa lagi di bendung, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita ingin tahu saat ini berada pada genggaman. Seperti akses berita, Toko Online dan juga wawasan yang tidak pernah didapat dari bangku sekolah saat ini bisa kita ketahui.
Berbicara soal para youtuber dan pedagang Atribut, apakah mencari keuntungan dalam PSHT.? Jawabannya adalah "TIDAK". Ini di karenakan Atribut atau aksesoris bukan bagian dari ajaran PSHT. Jika masih bergeming itu adalah penjualan Organisasi demi kepentingan pribadi. Lantas apakah menjual sarung, Songkok, dan mukenah bisa di katakan menjual agama? Sekali lagi jawabanya "TIDAK".

Yang di maksud dalam menjual Organisasi adalah saat kita menawarkan suatu hal yang tidak lazim untuk kita ketahui (Bersifat Rahasia tuhan).

Seperti Contoh Islam Radikalis yang selalu menjual Syurga agar dapat merekrut masa, Kemudian sang pembeli menelan mentah-mentah bahwa semua pokok ajaran islam adalah jalan menuju syurga, Padahal beragama zaman sekarang berbeda dengan beragama zaman dulu. memahami agama di zaman sekarang harusnya menggunakan 3 prinsip, Yakni Ta'awudz, Tawasuth, dan I'tidal agar bisa mengikuti zaman yang semakin komplek untuk tetap menggapai nilai-nilai makrifat tanpa meninggalkan syariat.
Hal inilah yang di maksud dengan penjualan agama. Sebab Syurga dan Neraka bukan kita yang mengatur melainkan sang pencipta.

Sama halnya dengan PSHT. apa itu yang di sebut dengan menjual Organisasi.? Yang dimaksud menjual Organisasi adalah saat kita menjual Persaudaraan untuk kepentingan kelompok. Padahal, si penjual tersebut tidak pernah memberikan percontohan untuk bisa menghargai nilai2 Persaudaraan. Kita harusnya benar-benar faham bahwa nilai-nilai Persaudaraan tidak bisa ditelan mentah-mentah dengan prinsip (Salah-Benar mereka adalah saudara), kita lupa bahwa di SH terate masih ada istilah Persaudaraan "Temu Rose", kita semua sadar dan juga memahami jika "Temu Rose" hanya dapat di timbulkan karena seizin Tuhan, Bagaimana kita mengenali tuhan jika larangan-larangannya saja kita langgar.

Inilah sebabnya nilai-nilai dari tujuan untuk mendidik manusia berbudi luhur tahu benar dan salah sedikit demi sedikit terkikis oleh Penjualan Persaudaraan yang di telan mentah-mentah. Padahal tujuan di letakkannya ajaran tahu benar dan salah untuk menuju Persaudaraan "Temu Rose" yang hanya dapat di pisahkan oleh tuhan Yang Maha Esa.