Kisah Dewa Ruci, Kesatria yang seumur hidup mencari tuhan dengan jalan Setia Hati.

jurnalterate.com - Kisah Dewa Ruci merupakan perumpamaan tentang hasrat manusia yang terus ingin melacak keberadaan Tuhan, dan dengan nalarnya ia melakukan penjelajahan ke semua tempat.

Dewa Ruci merupakan tokoh pewayangan yang di pakai Sunan Kalijaga untuk mempelajari ilmu Hati, di kisahkan dalam pewayangan tersebut, Tanda-tanda ilmu yang sudah melekat pada hati adalah ilmu yang sudah bermanfaat.


Dalam sebuah kitab yang berjudul Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah Al-Askandary Berkata: 

العلم النافع هو الذي ينبسط في الصدر شعاعه وينكشف به عن القلب قنا عه 

“Ilmu yang bermanfaat adalah cahayanya melapangkan dada dan menyingkap tirai bambu”.

Yang dimaksud Ibnu Athaillah dengan ilmu yang bermanfaat tersebut adalah ilmu tentang Allah. (Manunggaling Kawulo Gusti). sifat-sifat-Nya, asma-Nya, dan ilmu tata cara beribadah kepada-Nya dan bersopan santun di depan-Nya.

Ilmu inilah yang cahayanya melapangkan dada, sehingga mudah menerima kebenaran dan menyingkap tirai serta selaput penutup Qalbu. Maka, hilanglah segala macam angan dan keraguan sehingga menciptakan keyakinan pada fikirannya.

keyakinan itu akan mendekatkan hamba kepada Tuhannya dan menjauhkan dari pandangan terhadap diri sendiri (Sering menunjukan Ke - Aku - an). Itulah puncak kebahagiaan seorang hamba dan akhir dari keinginan dewa Ruci dalam pencariannya menemukan tuhan.

Itulah setia hati yang dimaksud dengan cahaya yang dipancarkan Allah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya, bukan ilmu lisan, ilmu logika, ataupun ilmu manqul dengan Contoh pelbagai peristiwa yang di alami insan setia hati, Semisal : "Mabuk tidak apa-apa yang penting ingat tuhan".
atau logika yang lain "Tidak Mendirikan sholat tidak apa-apa yang penting bisa mengharagai orang". Inilah yang di sebut ilmu lisan, Logika Dan manqul yang tidak akan dapat menerima pancaran cahaya dari tuhan yang maha esa.