Akhlak Zakaria (Pendiri Korlap) Yang Merebut Microfon Alm. Kang Mas Tarmadji.

www.jurnalterate.com - Bila melihat perjalanan KORLAP dengan Zakaria sebagai pemimpinnya, maka dapat dilihat tidak ada yang berubah dalam apa yang diteriakannya. Pada awalnya ketika KORLAP dibentuk oleh Zakaria adalah untuk mengumpulkan warga PSHT yang hobi berkelahi dalam komunitas untuk memudahkan koordinasi dalam acara-acara seperti ziarah malam 1 Suro. 

Kemudian nama Zakaria dan KORLAP melejit bukan karena perilaku positifnya, Namun karena Merebut microphone Alm. Kangmas Tarmadji saat akan memberikan penjelasan terkait ziarah dan mubes/parapatan luhur yang akan dilakukan.
Dalam kegiatan yang awalnya digagas sebagai sarasehan itu Zakaria menyatakan hanya akan mengajak 30 orang akan tetapi datang dengan 500 orang. Di acara itu bullying serta persekusi dilakukan oleh Zakaria bersama Korlapnya kepada sesepuh yang hanya berjumlah 9 orang.
Apa yang dilakukan Zakaria akhirnya diketahui orang-orang seperti Sunyoto Tri Laksono, Bagyo TA, Gembong, Sugiarto Harsono, dan Handoko Bangkalan. Orang-orang yang bermasalah dalam organisasi ini merasakan adanya momentum untuk memperalat Zakaria dan Pasukan KORLAPnya menyerang Pengurus Pusat. Dan terjadilah Demo Mei 2014 yang dipimpin oleh Zakaria, Gembong, Nurhadi Abas, Bagyo TA, Sunyoto Tri Laksono, dan Handoko bersama massa Korlap. Dalam tuntutannya, mereka meminta pengurus Pusat menyelenggarakan Mubes dan meneriakan agar suargi Kangmas Tarmadji mundur dari Pempinan Organisasi.

Beberapa Bulan kemudian, kelompok mereka menamakan diri sebagai GPO (Gerakan Penyelamat Organisasi). Tentu ini sangat berlebihan karena organisasi yang tidak sedang dalam bahaya. Justru tindakan GPO yang telah merusak tatanan dan ajaran SH Terate. Tindakan tidak terpuji tersebut dapat dilihat dari perilaku mereka mencoret-coret Padepokan Agung dengan kata-kata yang tidak pantas. Hal semacam ini sudah membuktikan bahwa tindakan mereka telah keluar dari etika dan norma organisasi dan kemanusiaan. Selang setahun kemudian lebih tepatnya pada bulan Suro 2015, kelompok GPO ini kemudian membuat ulah kembali dengan menyelenggarakan pengesahan di luar aturan organisasi (ilegal) di balai kelurahan Pilangbango Kota Madiun. 

Siswa-siswi yang sebelumnya mengikuti latihan melalui jalur yang resmi (rayon & ranting) diserobot dengan iming-iming biaya pengesahan yang lebih murah dari pada disyahkan di Padepokan Agung Madiun. Bahkan ketika Kangmas Tarmadji kundur, gerombolan GPO ini menghadang jalannya pemakaman bahwa Kangmas Tarmadji tidak di perkenankan dimakamkan di barat Masjid Umar Al-Farouq dengan alasan tanah lokasi pemakaman almarhum adalah milik Padepokan Agung Madiun. Bahkan mereka meminta menunjukkan bukti surat tanah sebagai bukti. Sembilan hari kemudian mereka menyegel Padepokan Agung Madiun.