Memaknai Satu Suro, Riyadi Kagoya : Yesus tidak membatasi cara kita untuk bersyukur.

Papua - Tepat pada malam ini Senin, 9 agustus 2021 banyak sekali Rayon dan Ranting PSHT Pusat Madiun di seluruh dunia menjalankan ritual yang sakral. Bagi mereka sendiri malam Satu Suro adalah momen yang tepat untuk mengasah lagi kemampuan untuk mempertajam mata bathin.

Begitu juga Rayon Hamadi Ranting Abepura Cabang Jayapura Pusat Madiun. Mereka mengadakan syukuran atas pergantian tahun menurut penanggalan jawa dengan tumpeng dan buceng.

Menurut Mas Riyadi, warga PSHT Jayapura yang beragama kristiani menganggap momen ini adalah tolak ukur kita sebagai warga PSHT, yang sejak siswa di didik menjadi manusia yang berbudi luhur tahu benar dan salah agar selalu konsisten dengan apa yang di ajarkan pelatihnya dulu.

"Pertama ya ucapan syukur kita kepada tuhan mas, meskipun terlihat seperti syukurannya orang muslim, tapi yesus tidak membatasi cara kita bersyukur atas nikmat berupa umur yang bermanfaat ini".
Memang, tumpeng atau buceng identik dengan islam, namun histori tumpeng dan buceng sudah ada sejak agama hindu budha yang di lestarikan oleh pemuka agama sebagai simbol-simbol nilai beragama.

"Yang kedua saya ingin mengingat saya waktu di sahkan dulu, saya mau berdoa pada yesus untuk keselamatan saudara-saudara Psht di manapun berada, terkhusus untuk para pelatih saya" Imbuhnya dalam memaknai nilai Satu Suro ini.

Semoga, dengan banyaknya rasa syukur kita dapat menjadi salah satu sebab kita terhindarnya dari marabahaya dan di dekatkan dengan kebaikan-kebaikan yang tiada habisnya.