-->

Sakralisasi Tradisi Buceng "Nek Mlebu Seng Kenceng" Hingga Tumpeng "Nek Metu Seng Mempeng".

Jurnalterate.com - Ritual tasyakuran Buceng merupakan salah satu tradisi yang ada dan dijalankan setiap tahunnya oleh Ranting Kedungpring Cabang Lamongan Pusat Madiun. Warga SH Terate Ranting Kedungpring menjunjung tinggi tradisi ini karena merupakan tradisi peninggalan para leluhur. Tradisi ini diadakan setiap satu tahun sekali yaitu setiap awal tahun baru Penanggalan atau bulan syura (Muharram).

Dalam nasi tumpeng tersebut, ada sebuah makanan yang namanya "buceng." Makanan tersebut dibungkus dengan menggunakan daun pisang atau daun bambu. Buceng tersebut mempunyai makna "Yen mlebu kudu sing kenceng" (kalau masuk harus sungguh-sungguh). Di kandung maksud, kalau masuk sebuah pelajaran apapun harus dengan penuh totalitas, jangan setengah-setengah.

Mempelajari ilmu spiritual itu tiada pernah habis. Spiritual sendiri erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Ilmu itu akan selalu dipakai manusia sebagai pegangan dalam menjalani hidup. Ilmu pelajaran hidup jika sering dipelajari semakin lama akan semakin bermanfaat.

Dalam acara tasyakuran tersebut, beberapa jenis nasi tumpeng merupakan lambang yang utama. Kata tumpeng sendiri mempunyai makna "nek metu kudu sing mempeng" (kalau keluar harus sungguh-sungguh).

Menengok sejarah Walisongo dalam mengislamisasi pulau jawa, ada sebuah tradisi "Sekaten" yang diadakan oleh Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Perayaan ini di adakan setiap tanggal tertentu untuk mengajak masyarakat selalu totalitas dalam menjalani sesuatu. Istilah sekaten sebenarnya berasal dari bahasa Arab yaitu Syahadatain yang artinya dua syahadat. Namun karena saat itu lidah masyarakat sangat sulit untuk mengucapkan kata syahadatain, maka kata yang digunakan adalah sekaten.

© 2021 ‧ jurnalterate.com. All rights reserved. Made with ♥ by tdb