KRA. Tjatur Proboningrat Ajak "Para Kadang Kinasih" Belajar Mengelola Informasi Untuk Membentuk Karakter Pendekar Yang Arif Dan Bijaksana.
Jurnalterate.com - Era globalisasi telah mencapai puncaknya dan akan terus mencapai puncaknya. Hal itu ditandai dengan menyebarnya informasi dari segala arah yang begitu cepat. Terlepas dari benar tidaknya isi informasi itu, faktual atau hanya sekedar gossip yang siapapun sumber informasinya jelas atau tidak jelas pastinya akan mempengaruhi pola pikir manusia yang menerimanya.
Agar tidak terombang ambing oleh informasi secara salah, oleh karenanya diperlukan kepiawaian dan kearifan dalam menyerap setiap informasi. Sebab, jika asal menyerap dan langsung mengartikulasikan, akan sangat berbahaya dan akan berpotensi menimbulkan informasi baru yang belum tentu benar adanya.
Dibawah ini terdapat sedikit resep bagaimana memilah sekaligus menyerap informasi secara efektif oleh Kang Mas Kanjeng Raden Arya Tjatur Njoto Ryanto Proboningrat Pembina UKM Pencak Silat SH Terate Perguruan Tinggi Se-Pusat Madiun :
1. Informasi yang bersifat men-generalisasi.
General dalam bahasa inggris berarti total, penuh, kaffah atau bisa di artikulasikan secara menyeluruh. Informasi sejenis ini biasa di pakai oleh orang yang hanya melihat dan mendengar tanpa mencari tahu seluk beluk kondisi yang terjadi (Tabayyun/Klarifikasi).
Dalam kondisi dan situasi yang berjauhan, tentu keterbatasan informasi menjadi kelemahan dalam mengambil kesimpulan isi pesan yang tertulis, terdengar maupun terlihat, dalam ilustrasi semisal Satpol-PP mengadakan penertiban 50 Pedagang Kaki Lima (PKL) di sebuah tempat yang berjauhan. Faktanya di tampat itu dalam kondisi itu hanya 4 Pedagang Kaki Lima yang tidak mau di tertibka, melalui upaya bentrok dengan petugas 4 Pedagang Kaki Lima itu telah di justifikasi sebagai seluruh Pedagang Kaki Lima sulit di atur tanpa tabayyun-klarifikasi.
Padahal, secara fakta di lapangan tidak semua Pedagang Kaki Lima sulit diatur.
Informasi demikian tidak dapat dipakai rujukan mengambil kesimpulan.
2. Informasi yang menggunakan bahasa ambigu atau bias.
Sebagai makhluk sosial tentunya interaksi kepada sesama manusia tidak dapat terhindari baik secara langsung maupun tidak langsung, erat kaitannya dalam interaksi tersebut pastinya menyertakan sebuah informasi. Dalam penyarapan informasi kita dapat memilih dan memilah bahasa yang di gunakan dalam penyampaian informasi tersebut dengan bahasa yang tidak ambigu atau jelas dan sesuai yang ada.
Informasi ambigu biasanya ditandai dengan kata-kata "katanya", "jika tidak kliru", "jarene", "kalau tidak salah", "biasanya" dan bahasa seterusnya yang membuat si pemberi informasi itu juga tidak begitu yakin dengan apa yang sedang di sampaikan.
Informasi semacam ini juga tidak dapat dipakai rujukan menentukan kebijakan/kesimpulan.
3. Informasi yang berdasar opini individu.
Informasi Opini individu merupakan sebuah informasi yeng menyimpulkan menurut analisa sendiri tentang apa yang di lihat dan di dengar.
Mengambil informasi boleh dan memang diperlukan.
Tetapi sebuah opini musti bersifat faktual, didukung dengan data yang valid, memiliki dasar yang relevan dengan permasalahan yang ada.
4. Sumber Informasi yang berbahaya.
Sumber informasi yang berbahaya merupakan sebuah informasi yang dapat menimbulkan kerugian (mudhorot) atau dampak yang sangat luas.
Dari manapun informasi yang datang harusnya melalui kajian yang mendalam entah itu dalam bentuk tabayyun, sumber yang valid dalam pijakan informasi yang dapat di pertanggung jawabkan agar tidak menimbulkan kerugian yang besar.
Berikut beberapa identifikasi yang dapat di lakukan dalam menelaah informasi.
- Apakah memang Sumber Informasi itu memiliki kapasitas untuk menginformasikan tentang sesuatu hal.
- Bagaimana reputasi dan rekam jejak pemberi Informasi tersebut.
- Apakah Sumber Informasi tersebut bisa dijamin kredibelitasnya.
Beberapa poin diatas sangat perlu dipertimbangkan karena tidak menutup kemungkinan informasi yang disampaikan dapat memicu mafsadat untuk di asumsi.
Demikian beberapa resep yang mudah mudahan dapat dimanfaatkan, agar tidak terombang-ambing oleh suatu informasi dalam menyikapinya secara arif dan bijak.