Melakoni Ilmu "Titi Mangsa" - Mengenal laku Apa yang kita tanam itu yang kita tuai.
"Bahwa Hakikat manusia ialah berkembang menurut kodrat dan iramanya masing-masing menuju ke Kesempurnaan".
Muqoddimah ini terkandung Filosofi yang yang sangat tinggi, Muqoddimah tersebut harusnya lebih di sadari sebagai dasar warga PSHT untuk menjalani kehidupan dengan baik dan benar.
Titi mangsa/Titi Mongso adalah rujukan dimana muqoddimah itu bermuara, Titi mongso mempunyai dua makna kata sifat "Ketetapan" dan "Waktu" dalam mengarungi peringai hidup : Bahwa siapa yang menanam maka penanam akan menuai.
Dari tuaian inilah kita di tuntut untuk bersifat legowo . Tidak menyalahkan orang lain dan tidak merasa ini adalah cobaan untuk mengangkat derajat kita. Melainkan kita di tuntut untuk pandai-pandai Mengambil Hikmah atas kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu dan kemudian di rubah dengan beramal baik. Bukan malah sebaliknya merasa kesulitan yang kita alami adalah ujian untuk mengangkat derajat kita.
Dalam pandangan islam, Ilmu Titi Mongso hanya bisa di lakukan oleh manusia yang berhati lebar. Di karenakan, butuhlah hati yang tenang agar mampu mengambil hikmah dari apa yang kita jalani :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Wahai jiwa yang tenang!
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. (Q.S.al-Fajr [89]: 27-28)
Jelas sekali, bahwa Ilmu Titi Mongso hanya bisa di lakukan oleh jiwa-jiwa yang tenang (Hati yang lebar) untuk bisa mencapai jiwa Setia Hati.