-->

Keteladanan lebih bermakna daripada ajaran : 5 Tingkat Keimanan pancadasar kerohanian Sh Terate.

jurnalterate.com - Iman kepada Allah merupakan rukun iman pertama. Kepercayaan atas keberadaan allah sebagai dzat yang melebihi segala makhluknya adalah sebuah kewajiban bagi seluruh alam semesta, Allah akan mengangkat derajat seseorang yang membuat hatinya lapang karena batin orang yang beriman adalah samudera tak bertepi dan cakrawala tak berbatas. Namun, demikian tingkat keimanan seseorang berbeda-beda. Syekh M Nawawi Banten menyebut lima tingkat keimanan anak Adam. Ia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini: مراتب الإيمان خمسة Artinya, “Derajat keimanan ada lima,” (Syaikh Nawawi Al-Banteni, Kasyifatus Saja, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah halaman 9). 

Pertama, iman taklid. Keimanan ini didasarkan pada ucapan orang lain (ulama biasanya) tanpa memahami dalilnya. Keimanan orang ini sah-sah saja meski ia terbilang bermaksiat karena meninggalkan upaya pencarian dalil sendiri bila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu melakukan pencarian dalil hukum. 

Kedua, iman ilmu atau ilmul yaqin. Keimanan ini didasarkan pada pemahaman aqidah.
“Orang dengan kategori keimanan pertama dan kedua terhijab dari dzat Allah,” (Syaikh Nawawi Al-Bantani, Kasyifatus Saja, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah halaman 9). 

Ketiga, iman ‘iyan atau ainul yaqin. Dengan keimanan ini seseorang mengetahui Allah (makrifatullah) dengan jalan pengawasan batin. Dengan keimanan ini, Allah tidak ghaib sekejap pun dari mata batinnya. Bahkan “gerak-gerik” Allah selalu hadir di dalam batinnya seakan ia memandangnya. Inilah yang di sebut maqam muraqabah. 

Keempat, iman haq atau haqqul yaqin. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah melalui batinnya. Ini yang dibilang oleh para ulama bahwa “arif (orang dengan derajat makrifat) memandang Tuhannya pada segala sesuatu.” Inilaj yang di sebut maqam musyahadah. “Orang dengan kategori keimanan ini terhijab dari makhluk Allah,” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Kasyifatus Saja, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah halaman 9). Dengan demikian, yang tampak padanya hanya Allah belaka. 

Kelima, iman hakikat. Dengan keimanan ini, orang menjadi lenyap karena Allah dan dimabuk oleh cinta kepadanya. Ia tidak menyaksikan apapun selain Allah. Bahkan ia sendiri tidak menyaksikan dirinya. Seperti tenggelam di laut, ia tidak melihat adanya pantai. Orang ini berada di maqam fana.

Semua keimanan ini mulia di level mana pun itu. Tetapi memanglah derajat dari semua keimanan itu berbeda di sisi Allah. Hanya saja, kita sebagai manusia biasa tidak perlu menilai tingkat keimanan orang lain karena semua mendapatkan petunjuk dari sumber yang sama, yaitu Allah. Keimanan dua kategori pertama dapat diupayakan melalui wilayah ikhtiar manusia. Oleh karena itu, seseorang wajib mendalami keimanan melalui pencarian dalil hukum Fiqh, Ijtima' Ulama maupun hadist dan wajib mempelajari sebisa mungkin sifat-sifat Allah. Sementara keimanan pada tingkatan berikutnya merupakan laduni, wahbi, atau anugerah ilahi yang tidak bisa diikhtiarkan karena didasarkan pada kehendak Allah.

 والواجب على الشخص أحد القسمين الأولين أما الثلاثة الآخر فعلوم ربانية يخص بها من يشاء من عباده

Artinya, “Seseorang wajib berada di dua level pertama. Sedangkan tiga level setelah itu adalah ilmu rabbani (anugerah ilahi) yang Allah berikan secara khusus kepada sejumlah hambanya yang dikehendaki,” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Kasyifatus saja, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah halaman 9). Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah dan makhluknya sekaligus tanpa terkecoh. Dengan keimanan ini, seseorang memandang dua entitas berbeda, yaitu Allah sebagai wujud hakiki dan makhluknya sebagai wujud majazi.

Tingkatan keimanan inilah yang disebut juga bisa di sebut maqam akmal atau tingkatan yang lebih sempurna karena ia tetap menjaga hubungan dengan alam, manusia, hewan, selain menjaga hubungan dengan allah (Memayu Hayuning Bawana).

© 2021 ‧ jurnalterate.com. All rights reserved. Made with ♥ by tdb